Jumat, 19 Oktober 2012

sejarah jurnalistik dunia dan indonesia


SEJARAH JURNALISTIK DUNIA DAN INDONESIA by : Firda Huurunnisa 12610796

Pada awalnya, komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasidari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan kewartawanan sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit:Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi kewartawanan. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.
Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Independen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.
Kegiatan kewartawanan diatur dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang dikeluarkan Dewan Pers dan Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI

Bersumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jurnalisme





Dalam perkembangan jurnalistik, terkait penentuan jurnalis pertama dan kapan kegiatan jurnalistik pertama dilakukan, para ahli senantiasa merujuk pada Romawi masa Julius Caesar (100-44 SM). Jules meneruskan tradisi raja-raja terdahulu untuk menyiarkan kabar mengenai keputusan senat di papan pengumuman, Acta Diurna. Jules berpikir, walaupun kekuasaannya tanpa batas, ia harus mendapatkan inisiasi dari publik Roma.
Sejak saat itu, dikenal istilah Jurnalis yang berasal dari kata diurnalis atau mereka yang menjadi juru tulis senat. Padahal, jika para ahli sains percaya adanya agama, perkembangan jurnalistik sudah ada pada masa sebelum Jules. Misalnya, catatan Eumenes, 363 SM. Ia telah membuat kisah orang-orang ternama masa itu, dari Alexander yang agung sampai Aristoteles. Lebih jauh lagi beribu tahun ke belakang adalah masa Nabi Nuh.
Konon, saat banjir besar menghantam bumi atau berakhirnya zaman es, riak jurnalistik sudah terbangun. Nabi Nuh AS membutuhkan kabar yang akurat dan faktual tentang kondisi daratan. Dikirimlah jurnalis dadakan, namun bisa dipercaya karena memiliki kemampuan "radar magnetis" dan otak kecil alat navigasi di hidungnya. Ya, burung merpati.
Si Merpati barangkali pangkatnya seorang reporter investigasi yang diminta mencari tahu kadar kesurutan air. Merpati terbang berkeliling hingga menemukan ranting zaitun yang menyebul di lautan. Ranting itu dipatuk, lantas dibawa sehingga Nabi Nuh mengetahui kabar akurat mengenai surutnya air.
China
Pada perkembangan selanjutnya, tradisi tulisan berlanjut di China. Surat kabar pertama pun lahir, King Pao. Surat kabar yang mengabarkan titah kaisar. Lantas, jurnalis tulis menulis sedikit surat di zaman kegelapan Eropa walaupun mendapat tempat manis di Asia. Pada masa itu, orang Eropa mengandalkan para penyair dari hall ke hall untuk mengabarkan kisah para raja dan pahlawan.
Perkembangan berarti berlangsung pada abad pertengahan. Yakni, hadirnya mesin cetak. Guttenberg (1450), dengan izin Tuhan, benar-benar merevolusi dunia. Kehadiran mesin cetak telah membawa jurnalisme ke titik 100 persen. Kemudian, lahir media massa pertama di Eropa yang tidak ditujukan untuk para raja semata. Yakni, Gazzeta di Venesia.
Sebagaimana umumnya kota Italia yang menganggap raja atau doge sebagai patron, kota dan para pengurusnya bersikap mandiri. Kemandirian informasi di Venesia inilah yang melahirkan Gazzeta.
Amerika
Di Amerika Utara, perkembangan pers mengikuti sejarah unik penjajahan Inggris pada dataran kolonialnya. Orang kolonial Amerika Utara itu, bahkan, memulihkan nama journalism sebagai kegiatan pencarian berita. Sementara di tanah Inggris sendiri, lahir Oxford Gazzete. Nama newspapper mulai digunakan menggantikan Gazzete yang berbau pizza Italia.
Pada masa awal revolusi Industri, masa Descartes usai mencerahkan Eropa dengan filsafat
ilmunya, jurnalistik mulai dipandang sebagai ilmu baru di ranah sosial. Karl Bucher dan Max Weber di Universitas Basel Swiss memperkenalkan cabang baru ilmu persuratkabaran, Zeitungkunde pada 1884.
Di Amerika Utara, lahirlah sekolah beken dalam urusan jurnalis, Columbia School of Journalism pada 1912 oleh Joseph Pulitzer. Pada abad ke-20, kepakaran dan profesi semakin mencair. Ilmu dan teori jurnalisme semakin berkembang, kode etik dilahirkan, teknik pemberitaan diperluas. Nama-nama harum, seperti Hunter S. Thompson, Hearst, atau Tom Wolfe, mengembangkan jurnalisme sebagai teknik dan konglomerasi.


Senin, 26 Maret 2012

Daftar 100 Impian

“Ini adalah 100 impian-impian yang akan menjadi semangat didalam hidupku“
1.     Aku ingin ALLAH memaafkan dosa – dosaku dan kedua Orang tuaku selama aku danOrang tuaku hidup di dunia mau itu dosa yang kecil hingga dosa yang besar.
2.     Aku ingin ALLAH memberikan kesehatan untuk kedua Orang tuaku.
3.     Aku ingin ALLAH memberikan umur panjang kepada kedua Orang tuaku karena aku ingin selalu bersama mereka.
4.     Aku ingin Orang tuaku selalu bahagia, di dunia dan di Akhirat.
5.     Aku ingin kedua Orang tuaku di beri kemudahan dari segala urusannya di dunia dan di akhirat nanti.
6.     Aku ingin ALLAH mewafatkan mereka dengan khusnul khatimah.
7.     Aku ingin keponakan – keponakanku tumbuh menjadi anak yang solehah, pintar, dan cantik.
8.     Aku ingin kakak - kakak saya sukses.
9.     Aku ingin kakak - kakak saya menjadi keluarga yang sakinnah, mawaddah dan warrohmah
10.   Aku ingin sekali bias membari makan anak – anak fakir miskin setiap hari.
11.    Aku ingin sekali mengajar anak – anak jalanan dan anak – anak tidak mampu yang bergabung dengan LSM.
12.    Aku ingin sekali kaliling dunia untuk membantu korban – korban perang dan bencana alam,
13.   Aku ingin  menjadi donator untuk mendirikan TPA dan sekolah – sekolah Islam di Indonesia.
14.   Aku ingin sekali membangun Masjid di wilayah penduduk muslim yang taat.
15.   Aku ingin membangun sebuah Pesantren Modern yang disiplin dan berkualitas.
16.   Aku ingin di dunia ini tidak ada kejahatan kejahatan terhadap wanita terutama anak – anak.
17.   Aku ingin orang orang yang korupsi di hukum seberat – beratnya.
18.   Aku ingin membuat novel yang menceritakan tenteang masa lalu ibuku yang sangat menyedihkan.
19.   Aku ingin memberikan hadiah terindah untuk orang – orang yang saya sayangi.
20.   Aku ingin ALLAH mencabut segala siksa-NYA kepadaku dan kedua Orang tuaku.
21.   Aku ingin bertemu dengan keluargaku, dan wisnu di Surga.
22.   Aku ingin ALLAH memberikanku pekerjaan yang mudah dan baik untuk kehidupanku.
23.   Aku ingin ALLAH menurunkan jodoh yang sholeh, bertanggung jawab, mapan dan sayang kepadaku dan keluargaku.
24.   Aku ingin sekali pergi ke Jepang bersama Wisnu.
25.   Aku sekali bertemu dengan Hideto Takarai (Hyde).
26.   Aku ingin sekali bias ngobrol dengan Hyde.
27.   Aku ingin sekali menjadi wanita yang sholehah sehingga bias menjadi wanita ahli Surga.
28.   Aku ingin punya mobil Merci warna hitam dengan plat nomor F 1 RDA.
29.   Aku ingin sekali bisa berkunjung ke rumah Hyde.
30.   Aku ingin sekali bisa foto bersama personil L’Arc~en~Ciel.
31.   Aku ingin sekali bisa berbincang – bincang dengan personil L’Arc~en~Ciel.
32.   Aku ingin bisa jalan – jalan berkaliling Jepang bersama mereka.
33.   Aku ingin acara konser mereka tanggal 2 Mei berjalan dengan lancer.
34.   Aku ingin sekali bertemu Ruki “ The Gazette “.
35.   Aku ingin sekali bertemu dngen personil The Gazette dan foto bersama mereka.
36.   Aku ingin punya tas dan sepatu yang tidak di miliki oleh orang lain.
37.   Aku ingin punya sepatu mahal.
38.   Aku ingin punya rumah yang minimalis.
39.   Aku ingin sekali punya rumah yang ada halaman di balkonnya sehingga bisa beristirahat dan bersenda gurau di sana.
40.   Aku ingin memiliki rumah yang sejuk, rapih dan bersih.
41.   Aku ingin punya kartu kredit yang tardapat unag di dalamnya dari hasil jerih payah saya.
42.   Aku ingin punya jaket pink yang lucu.
43.    Aku ingin punya cincin berlian.
44.   Aku ingin punya hand phone merek i phone yang berbentuk seperti kaca.
45.   Aku ingin punya baju – baju yang unik dan warna warni.
46.   Aku ingin punya gamis – gamis yang bagus.
47.   Aku ingin sekali bisa membaca Al – Qur’an dengan tartil dan merdu.
48.   Aku sangat ingin menjadi Guru SMA.
49.   Aku ingin sekali menjadi guru yang di sayangi murid – muridku.
50.   Aku ingin sekali menjadi guru yang baik dan dekat dengan murid – murid saya.
51.   Aku ingin bisa memasak yang enak eperti ibuku.
52.   Aku ingin menjadi teman yang baik dan ramah.
53.   Aku ingin bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar.
54.   Aku ingin pergi ke Inggris bersama Wisnu.
55.   Aku ingin memiliki kulit yang putih dan wangi.
56.   Aku ingin punya jam tangan yang bagus.
57.   Aku ingin bisa makan ramen dan pasta kapanpun aku mau.
58.   Aku ingin di dunia ini gak ada pengemis dan anak - anak jalanan.
59.   Aku ingin sekali ilmu yang saya miliki bisa menjadi amal zariah saya dan bermanfaat untuk orang lain.
60.   Aku ingin menjadi seorang penulis novel.
61.   Aku ingin sekali melihat Aurora di kutub utara.
62.   Aku ingin merasakan indahnya salju yang turun.
63.   Aku ingin sekali melihat taburan bintang di malam hari dari tempat yang tinggi.
64.   Aku ingin menjadi orang yang pintar dalam bidang yang aku inginkan.
65.   Aku ingin Jakarta menjadi kota yang bersih.
66.   Aku ingin menjadi ice skater yang handal.
67.   Aku ingin memiliki kekayaan yang berlimpah untuk aku bagikan kepada orang – orang yang tidak mampu dan orang – orang yang hidup  di jalanan.
68.   Aku ingin membuat surprise terindah untuk Wisnu yang tidak akan ia lupakan.
69.   Aku sangatlah ingin Wisnu tidak akan pernah meninggalkanku.
70.   Aku ingin seklai mengajak Wisnu ke tempat yang terindah.
71.   Aku sangat ingin mengajak Wisnu ke restaurant terenak di dunia.
72.   Aku sangatlah ingin berdo’a  dan sholat dengan kusyuk di depan ka’bah.
73.   Aku ingin menikah di usia 27 tahun.
74.   Aku ingin menjadi guru SMA professional.
75.   Aku ingin menikah dengan Wisnu Murti.
76.   Aku ingin pernikahan saya di adakan dengan tema Garden Party.
77.   Aku ingin mengobati kakak saya yang sedang sakit agar dapat merasakan apa yang aku dan kakakku yang lain merasakan selama ini sampai ia kembali normal seperti aku dan kakak – kakakku yang lain.
78.   Aku ingin membelikan lahan usaha untuk orang tuaku.
79.   Aku ingin memiliki 2 anak perempuan dan 1 anak laki – laki.
80.   Aku ingin orang – orang yang dahulu menyakitiku menyesal.
81.   Aku ingin melihat sebuah tempat yang cantik di sore hari dan di malam hari dari ketinggian.
82.   Aku ingin menjadi fashion center.
83.   Aku sangatlah ingin menghapus masa laluku yang menyakitkan dari hidupku.
84.   Aku ingin membeli perlengkapan tablet yang terbaru.
85.   Aku ingin punya macam – macam baju yang matching.
86.   Aku sangatlah ingin mempunyai Yayasan TPA dan Panti Asuhan
87.   Aku ingin pergi ke lading yang penuh dengan bunga.
88.   Aku sangatlah ingin menjadi orang yang tidak penakut.
89.   Aku sangat ingin hubunganku dengan wisnu di restui oleh kedua orangtua kita.
90.   Aku ingin mataku sehat kembali.
91.   Aku sangatlah ingin berat badanku bertambah 7 kilo lagi.
92.   Aku sangatlah menginginkan kelak aku akan meninggal dalam keadaan berwudhu.
93.   Aku sangatlah ingin saat aku meninggal, aku di makamkan di tempat yang dekat rumah dan tidak sepi.
94.   Aku sangatlah ingin banyak orang – orang yang mengirimkan do’a dan surat Yasin untuk saya saat saya sudah meninggal.
95.   Aku sangatlah ingin ALLAH menjaga aku, Wisnu, dan Orang tuaku di jauhkan dari mara bahaya dan musibah.
96.   Aku sangatlah ingin amal ibadahku dan ilmukau mengalir sampai aku meninggal.
97.   Aku sangatlah ingin di kenang orang lain sepanjang masa.
98.   Aku selalu ingin Wisnu selalu di sampingku sampai ajal menjemput.
99.   Aku sangat ingin Wisnu tidak akan pernah meninggalkanku.
100. Aku sangat ingin sifat borosku hilang.

Minggu, 08 Januari 2012


Masalah Sosial dalam Masyarakat dan Solusinya

Masyarakat miskin Indonesia mencapai 13,33 persen atau sebanyak 31,02 juta orang, dari  jumlah penduduk Indonesia. Ini data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2010 lalu. Di akhir tahun 2010, jumlah kemiskinan tersebut tentunya tidak jauh berbeda pertambahan ataupun pengurangannya.
Ini berarti bahwa kemiskinan masih merupakan masalah besar bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka ini. Bayangkan, dengan jumlah penduduk miskin sebesar itu, kita mencatatkan diri sebagai Negara yang orang miskinnya lebih banyak dari jumlah penduduk Negara tetangga Malaysia. Karena di waktu yang sama Malaysia berpenduduk 26,79 juta orng.
Ironi ini belum terjadi ketika di tahun 1975 dimana kemiskinan bukanlah topik bahasan utama di berbagai seminar dan surat-surat kabar. Baik masyarakat maupun pemerintah seperti tabu membahasnya. Pembangunan dianggap akan menghapuskan kemiskinan dengan sendirinya. Dan pakar ekonomi dengan analisis-analisisnya berdiri paling depan dalam barisan para pakar yang manganggap bahwa pertumbuhan ekonomi cukup mampu mengatasi segala masalah sosial ekonomi bangsa.
Selanjutnya ada beberapa dimensi dari akar kemiskinan tersebut. Isbandi Rukminto Adi, Phd menegaskan pula tentang akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan dan membaginya menjadi beberapa dimensi, di antaranya:
Pertama, dimensi Mikro : mentalitas materialistic dan ingin serba cepat (instan). Dua, dimensi Mezzo : melemahnya social trust (kepercayaan sosial) dalam suatu komunitas dan organisasi, dan otomatis hal ini sangat berpengaruh terhadap si subyek itu sendiri. Tiga, dimensi Makro : kesenjangan (ketidakadilan) pembangunan daerah yang minus (desa) dengan daerah yang surplus (kota), strategi pembangunan yang kurang tepat (tidak sesuai dengan kondisi sosio-demografis) masyarakat Indonesia. Empat, dimensi Global : adanya ketidakseimbangan relasi antara Negara yang sudah berkembang dengan Negara yang sedang berkembang.
Usaha kecil
Masalah lain yang kita hadapi adalah kondisi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), yang berpotensi menyerap tenaga kerja kurang terdidik, keberadaannya masih belum sepenuhnya mendapat perhatian serius. Berbeda dengan usaha besar yang padat modal dan teknologi, dengan mudahnya digelontori kredit perbankan dan berbagai kemudahan lainnya.
Sebagai gambaran, sepanjang 2010, sekitar 10-15 persen atau sekitar 790 ribu - 1,17 juta pelaku UMKM produksi di Jawa Barat menutup usahanya dan beralih menjadi pedagang produk impor asal Cina. Keuntungan yang lebih besar dan risiko yang lebih kecil menjadi alasan mereka beralih (Pikiran Rakyat, 22 Desember 2010).

Fakta ini menunjukkan bahwa serbuan barang impor, terutama asal China telah mematikan usaha bidang produksi. Di Jawa Barat saja mencapai sejuta UMKM, lalu bagaimana jika ditambah dari provinsi lainnya. Misalkan satu UMKM menampung lima tenaga kerja, maka jutaan orang akan kehilangan pekerjaan. Ini berarti jumlah penduduk miskin pun terus meningkat.

Baik pemerintah maupun pengamat ekonomi mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2011 bisa mencapai 6,2 persen. Namun hal itu sama sekali tidak berarti jika jumlah penduduk miskin tetap banyak. Bahkan jumlah penduduk miskin akan terpicu naiknya harga Sembako dan adanya rencana pemberlakuan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).  Misalnya ratusan ribu tukang ojek akan menjerit ketika BBM dibatasi, sebagian di antaranya kemudian akan menjadi penganggur. Daya beli masyarakat akan terpangkas besar-besaran, yang akhirnya akan mendongkrak jumlah penduduk miskin.

Kebijakan jalan pintas sering ditempuh pemerintah untuk sekedar “meredam berita” kemiskinan. Lantas, bagaimana solusi untuk mengendalikan pembengkakakan angka kemiskinan? Lebih tepatnya, bagaimana upaya mensejahterakan penduduk miskin, dan mencegah penduduk tidak miskin menjadi miskin. Instrumen yang ada pada pemerintah sebenarnya sudah memadai, ada Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian Sosial yang perangkatnya sampai ke tingkat daerah. Begitu pula seluruh Pemerintah Daerah memiliki dinas/instansi yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan.
Dalam hal ini pemerintah bisa bekerjasama dengan perusahaan besar yang memiliki  program corporate social responsibility (CSR) dan Perguruan Tinggi Negeri/Swasta (PTN/PTS) yang memiliki program pengabdian pada masyarakat (PPM). Namun yang selalu menjadi masalah adalah kemauan kuat dan muncul dari keinginan kuat untuk membantu rakyat miskin menjadi lebih sejahtera. Apa yang dilakukan belum bersumber dari hati, dan masih sekedar sebuah upaya menggugurkan kewajiban. Itulah sebabnya penduduk miskin yang menjadi sasaran program tetap miskin cenderung tidak terangkat dari kemiskinan.

Pemerintah mengelola dengan baik keuangan Negara. Karena, Negara kita telah dipenuhi dengan para tikus-tikus politik yang menguasai uang Negara. KIni cukup banyak even-even yang mensejahterakan masyarakat miskin. Dan Pemerintah perlu memberikan simulasi yang baik untuk rakyat miskin akan tetap dapat merasakan bahan pangan dan papan untuk kebutuhannya. Dari mulai beras khusus rakyat miskin, sembako dengan harga yang memadai untuk rakyat miskin, di bukanya lapangan-lapangan pekarjaan, lembaga pendidikan yang memadai, serta prasarana pemerintah yang dapat mempermudah akses kota ke desa atau sebaliknya.
Keadaan ini dapat memperbaiki angka kemiskinan dan kebodohan di Indonesia. Tak lupa untuk mengadili para koruptor yang dengan berbangga hati mencuri uang milik rakyat.